Archives September 2026

Sholat Istisqo SDIT Mutiara Hati: Memohon Hujan dan Keselamatan di Tengah Kepungan Abu Vulkanik

BEKASI — Di tengah kondisi udara yang kian mengkhawatirkan dan maraknya fenomena alam yang melanda Tanah Air belakangan ini, seluruh civitas akademika SDIT Mutiara Hati menggelar ibadah Sholat Istisqo pada Kamis, 10 September 2026. Berlokasi di Lapangan SDIT Mutiara Hati, kegiatan ini berlangsung khidmat dengan diikuti oleh seluruh siswa dari level 1 hingga 6 beserta segenap jajaran dewan guru.

Bertindak sebagai imam dan khatib dalam pelaksanaan sholat sunnah ini adalah Ust. Abdul Rahman, ST., M.Pd. Dalam khutbahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak istighfar, merendahkan diri di hadapan Sang Khaliq, dan memohon agar langit segera menurunkan rahmat-Nya.

Makna dan Rujukan Sholat Istisqo

Secara bahasa, Al-Istisqo bermakna meminta turunnya hujan. Dalam syariat Islam, Sholat Istisqo adalah sholat sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) sebanyak dua rakaat yang dilaksanakan secara berjamaah di lapangan terbuka. Tujuannya adalah untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan, terutama saat terjadi kemarau panjang atau kondisi darurat lingkungan yang sangat membutuhkan air.

Pelaksanaan ibadah ini merujuk langsung pada kebiasaan (sunnah) Rasulullah SAW ketika umat menghadapi musibah kekeringan. Hal ini ditegaskan dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu:

“Rasulullah SAW keluar menuju tempat sholat (lapangan) untuk meminta hujan (Istisqo’). Beliau menghadap kiblat, membalikkan selendangnya, dan melaksanakan sholat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengetuk Pintu Langit di Tengah Bencana Erupsi

Pelaksanaan Sholat Istisqo SDIT Mutiara Hati kali ini memiliki konteks yang sangat relevan dan mendesak. Seperti diketahui, Indonesia belakangan ini tengah diuji dengan rentetan musibah gunung meletus di berbagai daerah. Dampak sekunder dari erupsi ini—yakni sebaran debu dan abu vulkanik yang pekat—tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga mengancam kesehatan pernapasan masyarakat luas secara nasional.

Dalam kondisi darurat ekologis seperti ini, hujan bukan sekadar pelepas dahaga bumi yang gersang. Hujan adalah “pembersih alami” yang diutus Allah SWT untuk membilas polusi udara dan meluruhkan partikel abu vulkanik yang bertebaran di atmosfer. Melalui sujud dan doa di lapangan sekolah hari ini, para siswa diajak untuk menyadari bahwa di saat daya upaya manusia telah mencapai batasnya dalam menangani bencana, pertolongan mutlak hanya datang dari Allah SWT.

Pendidikan Karakter Berbasis Empati

Lebih dari sekadar rutinitas ibadah, kegiatan ini menjadi wadah pendidikan karakter (character building) yang nyata bagi para siswa. Anak-anak diajarkan untuk membangun empati spiritual terhadap saudara sebangsanya yang terdampak bencana alam, sekaligus mempraktikkan langsung tuntunan fiqih ibadah sejak usia dini.

Semoga rintihan doa dan istighfar dari lisan tulus anak-anak serta segenap guru SDIT Mutiara Hati hari ini mampu menembus pintu langit. Kita berharap Allah SWT segera menurunkan hujan yang nafi’an (bermanfaat), membawa keberkahan, serta membersihkan udara Indonesia dari kepungan sisa musibah vulkanik. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.